Sabtu, 22 Mei 2010

Candi Borobudur,Yogyakarta

Waktu itu sekolah saya mengadakan study tour ke Yogyakarta selama 4 hari, tempat pertama yang kami kunjungi setelah sampai di Jogja adalah Candi Borobudur..
Borobudur adalah nama sebuah candi Budha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
Menurut sejarah Candi Borobudur dibangun oleh Raja Smaratungga salah satu raja kerajaan Mataram kuno dari dinasti Syailendra pada abad ke-8. Menurut legenda Candi Borobudur dibangun oleh seorang arsitek bernama Gunadharma, namun kebenaran berita tersebut secara hirtoris belum diketahui secara pasti.

Bahan dasar penyusun Candi Borobudur adalah batuan yang mencapai ribuan meter kubik jumlahnya. Sebuah batu beratnya ratusan kilogram. Hebatnya, untuk merekatkan batu tidak digunakan semen. Antarbatu hanya saling dikaitkan, yakni batu atas-bawah, kiri-kanan, dan belakang-depan. Bila dilihat dari udara, maka bentuk Candi Borobudur dan arca-arcanya relatif simetris.

Cara membaca relief yang ada di dinding candi yaitu menaiki tangga tahap demi tahap searah jarum jam..Tapi kami sebenarnya gak benar-benar paham tentang ceritanya, soalnya kami sibuk berfoto-foto!haha
Disana selain kesenangan yang saya dapatkan..namun ada sedikit kekecewaan di benak saya, karena candi yang kita anggap sebagai salah satu keajaiban dunia sekarang sudah tak seindah yang dulu..
Banyak stupa-stupa yang sudah cacat, dari yang tangan nya buntung,kepala nya buntung,bahkan sampai tidak berbentuk sama sekali...

Penyebab rusaknya stupa-stupa tersebut mungkin karena faktor usia yang sudah lama, namun pasti ada faktor lain seperti ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dan manusia yang tidak menghargai peninggalan bersejarah itu.




Setelah puas melihat-lihat Candi Borobudur, perjalanan kami lanjutkan ke tempat-tempat yang jauh lebih indah dan menarik di daerah Yogyakarta...haha

Sabtu, 06 Maret 2010

Girimanik,Wonogiri

Hay..siapa yang kampungnya di Wonogiri pasti tau yang namanya wisata air terjun Girimanik??
kebetulan kampung saya berada di Wonogiri,,air terjun Girimanik menjadi salah satu andalan warga untuk berlibur setelah capek bertani di sawah.

Kecamatan Slogohimo merupakan salah satu kecamatan andalan penghasil pendapatan asli daerah (PAD) Wonogiri. Apalagi jika ditilik dari letak geografis, maka wilayah Slogohimo menjadi daerah persimpangan yang cukup ramai. Jika ke timur, akan menuju wilayah Kecamatan Purwantoro yang menjadi daerah perbatasan dengan wilayah Jawa Timur, sementara jika ke selatan akan menembus wilayah Jawa Timur pula. Potensi alam pegunungan menjadi salah satu sumber penghasil devisa domestik, yakni air terjun
Girimanik yang berada di Desa Setren.

Di wisata alam Girimanik terdapat tiga air terjun, yakni air terjun Manikmoyo, air terjun Condromoyo, dan air terjun Tejomoyo. Daya tarik fisik berupa pemandangan alam pegunungan yang asri dan alami, menjadikan air terjun tersebut bisa jadi andalan pengembangan pariwisata.


Setiap tahun, di Setren dilangsungkan upacara adat susuk wangan, yakni upacara syukur dari warga Setren atas hasil bumi yang diraih. Saat upacara susuk wangan itu, pengunjung wisata bisa melihat ratusan ayam panggang yang dipersembahkan oleh para petani kepada Sang Khalik.



Pemkab Wonogiri telah membangun jalan sepanjang 12 km, namun saat ini terkendala nota kesepahaman atau MoU antara perum Perhutani dengan Pemkab Wonogiri.
Setiap liburan, pengunjung wisata Girimanik sudah cukup banyak. Namun, pengelolaan ditangani pihak desa, sehingga pemasukan yang ada untuk kas desa.


Pemandangan disana masih sangat asri,disana banyak ditumbuhi pohon jati yang kabarnya saka (tiang) bangunan Keraton Solo berasal dari kayu jati Donoloyo. Warga disana juga sedang menanami tumbuhan lain seperti strawbery, Lahan di Girimanik memang sejuk sehingga cocok untuk dikembangkan tanaman strawbery. Sebanyak 400 batang telah dikelola Kelomtan Girimanik dengan luas lahan satu hektare. Tanaman itu dikembangkan dan dikelola oleh 10 kepala keluarga.

Selain itu, juga terdapat tanaman nilam (dilem). Tanaman untuk bahan kosmetik ini cukup produktif dan mampu membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tanaman nilam sementara ini dikembangkan di empat desa dengan rata-rata pohon sebanyak 5.000 hingga 10.000 batang.



Sumber : http://apiairdanangin.blogspot.com/2008/07/wisata-air-terjun-giri-manik-slogohimo.html

Jumat, 05 Maret 2010

Lawang Sewu,Semarang
















Sekarang saya akan merekomendasikan tempat wisata yang kali ini tidak menyajikan pemandangan yang indah dan asri,namun tidak kalah serunya.

Obyek wisata yang bernama Lawang Sewu, yang terletak di Semarang. Jika obyek-obyek wisata lain menawarkan keindahan alam berupa pantai ataupun pegunungan maka lawan sewu menawarkan sesuatu yang sangat berbeda yaitu "keangkeran"!

Apa itu Lawang Sewu? Lawang sewu adalah sebuah gedung tua peninggalan Belanda yang terletak di kota Semarang Jawa Tengah. Gedung ini terletak tepat di bundaran Tugu Muda yang dahulu dikenal dengan nama Wilhelmina Plein.

Mengapa disebut Lawang Sewu?
Lawang sewu berasal dari dua kata bahasa Jawa yaitu : Lawang yang berarti Pintu dan Sewu yang bermakna seribu. Jadi Lawang sewu adalah gedung yang mempunyai jumlah pintu seribu buah. Walaupun secara kenyataan jumlah pintu yang ada tidak mencapai seribu buah (saya tidak menghitungnya hehe) tetapi karena gedung ini memiliki jumlah pintu yang banyak dan besar maka penduduk setempat memberikan nama lawan sewu.


Sejarah Lawang Sewu
Lawang sewu dibangun pada sekitar tahun 1903 dan pada masa pemerintahan Belanda gedung berlantai dua dan mempunyai ruang bawah tanah ini berfungsi sebagai kantor dari NIS (Nederlansch Indishe Spoorweg Naatschap). Sisa peninggalan Belanda yang masih terlihat jelas pada lawang sewu adalah ornamen khas eropa yang terdapat pada jendela besar di dalam gedung.

Setelah Jepang mengambil alih pemerintahan Belanda di Indonesia pada sekitar tahun 1942, ruang bawah tanah gedung ini yang sebelumnya merupakan saluran pembuangan air di "sulap" menjadi penjara bawah tanah sekaligus saluran pembuangan air. Gedung ini juga menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara rakyat Indonesia dengan penjajah Jepang yang terkenal dengan pertempuran lima hari di Semarang. Sisa pertempuran ini masih terlihat dari bekas tembakan di salah satu tiang penyangga gedung ini.

Setelah kemerdekaan diraih oleh bangsa Indonesia, gedung ini dipakai sebagai kantor oleh Perusahaan kereta api Indonesia atau KAI.


Saat ini, Lawang sewu di kenal oleh penduduk setempat sebagai gedung yang angker dan konon sering terlihat mahluk halus pada malam hari. Menurut saya dari sudut pandang pariwisata, kesan tersebut sebenarnya merupakan peluang untuk menarik lebih banyak wisatawan baik lokal maupun asing khususnya mereka yang menyukai tantangan berbau mistis dan angker. Saya yakin apabila potensi ini dioptimalkan maka akan lebih banyak wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia dan tentunya tambahan devisa bagi negara ini.

Sumber : http://community.kompas.com/read/artikel/1358

Api Yang Tak Kunjung Padam,Pamekasan

Tak jauh dari kota Pamekasan, Madura, ada api abadi. Objek wisata alam ini lebih dikenal sebagai "api yang tak kunjung padam". Pada 2000, kalau tidak salah, obor api PON (Pekan Olahraga Nasional) XV mula pertama disulut dari sini.
Biar hujan sekalipun api tetap menyala. Kalau kena angin keras, hujan deras, baru mati. Tapi, setelah hujan berhenti, ya, hidup lagi, Namanya saja api yang tak kunjung padam," ujar Pak Agus, hansip plus tukang parkir.

Api ini dimanfaatkan beberapa warga setempat untuk membakar jagung. Pengunjung juga boleh membakar sendiri. Panasnya sudah pasti merata. Tidak perlu minyak tanah, gas, kayu bakar, dan sejenisnya.

Pamekasan-Wisatawan yang pernah ke api tak kunjung padam, pasti mengenal seperti apa api tak kunjung padam di desa jengka kecamatan tlanakan kabupaten pamekasan. Tapi, tak banyak wisatawan yang tahu seperti apa nikmatnya jagung bakar, jika dibakar langsung dengan api tak kunjung padam.

Selain aroma dan rasanya gurih, jagung yang dibakar di api tak kunjung padam sering membuat wisatawan ketagihan. Lebih enak lagi, jika jagung bakar dinikmati pada malam hari. Nah teman, tempat wisata yang berjarak sekitar 70 kilo meter dari kota pamekasasn ini, di manfaatkan para wisatawan menghabiskan waktu liburan.

Para pengunjung biasa menikmati jagung bakar, yang di bakar di api tak kunjung padam. Buah jagung yang di bakar di api tak kunjung padam, aroma dan rasanya lebih terasa gurih dan nikmat.

Tempat ini menjadi salah satu tempat favorit mahasiswa dan anak-anak muda. Selain untuk menikmati api alam yang ada disana,

Mereka juga sengaja datang untuk membakar jagung yang di jual masyarakat sekitar api tak kunjung padam .

Sumber :
http://hurek.blogspot.com/2009/06/api-abadi-di-pemekasan.html
http://www.madurachannel.com/madura/sosial-budaya/1243-jagung-bakar-api-tak-padam.html

Gerojogan Sewu,Karanganyar

Suasana segar dan sejuk merupakan hal yang akan Anda rasakan saat berada di dekat air terjun. Bagaimana bila air terjun yang ada tidak hanya satu? Tentu akan menambah kesegarannya. Itulah yang akan Anda rasakan saat berada di air terjun Grojogan Sewu, Karanganyar, Jawa Tengah. Tempat wisata yang merupakan hutan wisata dengan air terjun dan beberapa fasilitas lain yang disediakan pengelola dapat Anda jadikan salah satu tujuan wisata Anda.

Grojogan Sewu
merupakan salah satu air terjun yang berada di Jawa Tengah. Terletak di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Air terjun Grojogan Sewu terletak di lereng Gunung Lawu. Grojogan Sewu terletak sekitar 27 km di sebelah timur Kota Karanganyar. Air terjun Grojogan Sewu merupakan bagian dari Hutan Wisata Grojogan Sewu.

Grojogan Sewu berarti air terjun seribu. Meski air terjun di sini tidak berjumlah seribu, tetapi ada beberapa titik air terjun yang dapat dinikmati di sini. Air terjun tertinggi yang ada tingginya sekitar 80 meter. Ada pula air terjun yang tidak terlalu tinggi tetapi pancurannya meluas dan membentuk cabang-cabang. Bila sedang musim hujan, sekeliling tebing akan dihujani air terjun, tetapi saat musim panas, banyak air terjun yang kering.

Hutan Wisata Grojogan Sewu memiliki luas 20 Ha. Kawasan hutan ini banyak ditumbuhi berbagai jenis pohon hutan dan dihuni oleh sekelompok kera jinak. Beberapa fasilitas dari hutan wisata ini adalah Taman Binatang Hutan, kolam renang, tempat istirahat, kios makanan, kios buah-buahan dan cinderamata, mushola dan MCK.

Sumber :http://kumpulan.info/wisata/tempat-wisata/53-tempat-wisata/93-grojogan-sewu.html